Artikel

“The Power of Digital Map”

Tiga conto fitur aplikasi dari unicorn lokal yang menggunakan Location-Based Tecnology


Dua contoh dialog singkat di atas adalah dialog yang sebagian besar kita sering melakukannya dengan isi dialog yang kurang lebih sama. Bagi para pengguna aplikasi, dialog di atas seolah mengalir secara otomatis ter-texting oleh alam bawah sadar melalui jari-jari para pengguna aplikasi tersebut. Texting otomatis ini dilakukan karena pengguna aplikasi perlu memastikan bahwa informasi yang dibutuhkan benar, serta proses texting tersebut sudah menjadi kebiasaan sehari-hari. 

Bila kita cermati contoh dialog dari dua aplikasi yang berbeda tersebut, terdapat kesamaan terkait dengan substansi informasi yang dibutuhkan oleh masing-masing penggunanya. Informasi apakah itu? Informasi lokasi atau posisi! Tepat, lokasi atau posisi telah menjadi menjadi node atau titik simpul yang merangkai aktivitas dan potensi antara lokasi satu dengan dengan lainnya. Kenapa demikian? Karena semua aktivitas pasti berada pada suatu lokasi. Tidak ada kegiatan satupun di dunia ini tidak berada dalam suatu lokasi atau ruang.

Maka jangan heran jika aplikasi-aplikasi atau platform yang populer saat ini hampir semua menggunakan informasi lokasi sebagai salah satu komponen untuk memberikan inovasi baru terkait dengan penyampaian nilai-nilai baru kepada pengguna guna memberikan solusi terkait permasalahan yang ada, memberikan peluang dan keuntungan kompetitif lebih besar.

Potensi nilai sebuah lokasi

Lokasi merupakan tempat posisi obyek dalam sebuah sistem referensi yang mengandung informasi atribut di lokasi itu sendiri serta informasi keruangan terhadap obyek lainnya. Dalam era digital ini lokasi mempunyai arti penting dalam men-delivered nilai produk inovasi kepada masyarakat atau konsumen terkait dengan; layanan yang diberikan dan informasi yang ada sesuai karakteristik lokasinya, pengambilan keputusan dengan mempertimbangankan relevansi data keruangan yang ada, dan penyampaian penawaran menyangkut nilai produk barang atau jasa kepada masyarakat atau konsumen yang sesuai. Dengan demikian lokasi tidak hanya berdimensi ruang dan waktu  namun juga melibatkan dimensi pelayanan, sosial dan ekonomi masyarakat.

Sadar atau tidak sadar beberapa aplikasi yang dikembangkan oleh unicorn-unicorn  baik yang berasal dari dalam maupun luar negeri dan sehari-hari berada pada genggaman kita, dibangun salah satunya menggunakan kekuatan lokasi sebagai dasar dalam penciptaan unique customer value. Lokasi sudah menjadi bahasa universal dalam me-monetizing produk baik berupa barang ataupun jasa.

Gojek yang semula hanya sebagai ojek online dengan memanfaatkan peta digital sebagai dasar logikanya, dan saat ini telah berkembang lebih jauh dengan me-monetizing potensi ruang lokasi beserta sumber dayanya dalam inovasi-inovasi yang tidak hanya menguntungkan bagi Gojek tetapi juga menciptakan ekosistem yang saling terkait baik secara ekonomi atau sosial. Bukalapak dan Tokopedia sebagai platform e-commerce juga menggunakan lokasi sebagai salah satu standar dalam sistem pelayanan konsumen dan intelijen bagi upaya pemasaran dan periklanan produk dari mitra sesuai dengan karakter dan informasi lokasi konsumen. Traveloka sebagai unicorn bidang transportasi dan travel online salah satunya menggunakan lokasi sebagai dasar dalam logika pencarian lokasi hotel, informasi objek menarik di sekitar hotel dan trackingnya. Anda para penggemar virtual reality game tentu masih ingat dengan popularitas Pokemon GO yang diluncurkan pada pertengahan 2016. Game yang dibangun dengan menggabungkan antara location-based technologyvirtual reality dan physical activity ini benar-benar membutuhkan data reality world guna menggabungkan antara data virtual reality dengan dunia nyata sehingga menghasilkan game yang cukup revolusioner. Pada awal 2019 atau kurang dari tiga tahun game ini telah diunduh lebih dari 1 milyar  pengguna dan yang mencengangkan lagi, game ini mampu meraup pendapatan lebih dari 3 miliar USD. Masih banyak lagi contoh betapa pemanfaatan location-based technology dengan memanfaatkan peta digital mampu melahirkan unicorn-unicorn yang valuasinya mencengangkan dan startup-startup yang sangat inovatif dan solutif. 


Peta bahasa universal

Konon peta sudah ada sejak 2300 tahun sebelum masehi pada masa Babylonian yaitu berupa goresan informasi pada lembaran batu lempung/sabak. Kemudian pemahaman kartografi mulai berkembang pada masa Yunani Kuno dengan dikenalnya konsep speriodal bumi hingga berkembang sampai era milenial ini dalam bentuk peta digital dengan beragam pemanfaatannya. 

Dari awal perkembangan peta hingga saat ini ada kesamaan yang tidak hilang dari masa ke masa terkait dengan fungsi peta. Peta digunakan dalam peradaban  manusia untuk menjelaskan dan memberikan informasi mengenai arah atau posisi suatu obyek terhadap suatu referensi (sistem referensi atau obyek lainnya di bumi). Pada saat ini peta digital yang memuat informasi lokasi dari obyek-obyek mempunyai fungsi tidak hanya sebatas menunjukkan posisi dan jarak dalam ruang tetapi mempunyai potensi kekuatan dalam hal menyajikan informasi dan  layanan apa yg ada, kebutuhan apa saja yang diperlukan, serta apa saja yang bisa ditawarkan pada komunitas pada lokasi tersebut. 

Peta sudah menjadi bahasa universal, mampu menyederhanakan dalam penyampaian informasi yang rumit, mudah dipahami oleh siapapun lintas bangsa dan negara dan menyimpan potensi kekuatan sosial, ekonomi, dan budaya yang apabila dibangkitkan dengan teknologi yang tepat akan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan kehidupan yang ada.

Pertanyaannya, apakah bisnis anda atau produk dari bisnis usaha anda sudah memanfaatkan bahasa universal yang sangat powerfull bernama peta digital ini menjadi sebuah unique selling point bagi produk anda? Jika belum, anda harus berpikir kritis dan cepat guna memutuskan langkah yang cepat dan tepat sebelum bisnis anda ditelan perubahan jaman. (*\admin)

37 thoughts on ““The Power of Digital Map”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *